Minggu, 01 Januari 2012

Teori Prilaku dan Kognitif


TEORI PERILAKU DAN KOGNITIF
BAB I
PENDAHULUAN

A. Ruang Lingkup
Dalam pembahasan teori perilaku dan kognitif ini terdiri dari dua teori yang saling berkaitan, yaitu: Terapi model perilaku, berasal dari teori pembelajaran psikologis dan terapi model kognitif, berasal dari teori psikologi tentang persepsi dan proses informasi. Teori ini bersifat psikologis sehingga tidak bisa diterapkan pada suatu kelompok ataupun masyarakat. Poin-poin penting dalam bahasan  ini adalah sebagai berikut;
1.      Fokus pekerjaan kognitif-behavioural yaitu menentukan dan menunjukkan masalah perilaku manusia, khusunya yang berkaitan tentang pobia sosial. Kegelisahan dan depresi.
2.      Kedalaman asesmen dan pengawasan kemajuan sering digunakan sebagai alat ukur dalam teori ini.
3.      Keefektifan penelitian secara factual sangat dibutuhkan dan penting dalam teori maupun prakteknya.
4.      Teknik utama yaitu penentuan secara tepat dan menggunakan teknik-teknik yang sudah ditentukan termasuk respondent conditioning, operant conditioning, pembelajaran sosial, pelatihan ketrampilan dan membentuk kognisi seseorang sesuai dengan system yang ada.
5.      Teknik pembelajaran sosial seperti asertifitas dan latihan ketrampilan merupakan bagian dari pekerjaan sosial kelompok dan digunakan dalam praktek feminis.
6.      Teknik-teknik khusus yang digunakan dalam seting klinis dimana pengawasan dan ketrampilan juga  diterapkan.
Untuk menerapkan teori-teori tersebut di atas dapat menggunakan konsep-konsep sebagai berikut;
1.      Perilaku, kognitif dan terapi kognitif-behavioural, mempunyai fokus pada perilaku dan pikiran.
2.      Teori pembelajaran sosial, mempunyai fokus pada proses pembelajaran seseorang terhadap persepsi dan pengalaman sosialnya.
3.      Perilaku yang digeneralisasi berasal dari kehidupan sehari-hari.
4.      Extinction bagian perilaku yang tidak bisa diperbaiki.
5.      Pelatihan asertivf membantu orang untuk lebih bisa meningkatkan rasa kepercayaan diri.
6.      Penguatan/dukungan adalah perilaku-peralaku yang sangat berguna.
7.      Modeling adalah bagian dari pembelajaran sosial dimana seseorang memahami dan mencontoh prilaku-perilaku yang baik dari model nilai yang ada.
8.      Memperbaiki perilaku yaitu dengan memberikan dukungan-dukungan pada setiap perubahan kecil.
9.       Reward/hadiah sebaiknya diberikan setelah adanya perubahan perilaku.

B. Kajian Teoritik
Kognitif atau pemikiran  dan behavioral atau perilaku adalah dua teori yang berkaitan  dalam Teori psikologi. Pada awalnya, teori pembelajaran merupakan teori yang muncul terlebih dahulu, dan berkembang  kedalam psikologi klinis yang digunakan untuk terapi perilaku. Sheldon (1995) menyatakan bahwa teori pembelajaran sebagai pemisah antara perilaku dan pikiran dari keseluruhan identitas psikologis seseorang. Psikodinamik dan pandangan konvensional mengatakan bahwa perilaku berasal dari proses yang terjadi dalam pikiran manusia. Hal tersebut mempunyai hubungan antara ide filosofis yang ada dalam pikiran dan kemudian mendasari sisi kemanusiaan seseorang, atau dengan kata lain adalah ‘jiwa’.
Teori pembelajaran sosial (Bandura, 1977) memperluas ide-ide sebelumnya tentang dengan menyatakan bahwa kebanyakan pembelajaran didapatkan oleh persepsi masyarakat dan pemikiran dari apa yang pernah mereka lakukan (pengalaman). Mereka belajar dengan cara mengkopi contoh-contoh yang ada disekitar mereka. Membantu dalam proses tersebut dapat memperkaya cara-cara terapi.
Teori kognitif adalah bagian dari perkembangan teori perilaku dan terapi,  yang menjadi dasar bagi teori pembelajaran sosial. Teori kognitif menjelaskan bahwa perilaku dipengaruhi oleh persepsi atau interpretasi di lingkungannya selama proses belajar berlangsung. Munculnya perilaku yang abnormal dilatarbelakangi oleh adanya misinterpretation dan misperception. Dengan adanya terapi, maka pemahaman yang salah dapat di koreksi sehingga memunculkan perilaku yang sesuai dengan lingkungannya.
Gambrill (1995) mengidentifikasi hal-hal utama dalam behavioural work ( pekerjaan perilaku):
1.      Fokus terhadap perilaku-perilaku yang ada dalam klien atau sekitarnya. Jika ada perilaku yang berubah, pindah kepada fokus yang lainnya.
2.      Berdasarkan pada prinsip-prinsip perilaku dan teori pembelajaran.
3.      Peksos membuat suatu analisis yang benar dan memberikan penjelasan-penjelasan, yang didasarkan pada hasil pengamatan. Metode-metode asesment, intervensi dan evaluasi ditetapkan secara benar.
4.      Faktor-faktor perilaku yang dipengaruhi, diidentifikasi berdasarkan factor-faktor perubahan sesuai denga situasi yang ada dan mencari hasil perubahan tersebut.
5.      Aset klien harus ditemukan dan digunakan.
6.      Orang-orang yang berperan dalam lingkungan klien harus difungsikan.
7.      Intervensi didasarkan pada efektivitas dan factual
8.      Progesitas dimonitor secara objektif dan subjektif, membandingkan data sebelum dilakukan intervensi dan sesudah intervensi dilakukan.
9.      Peksos harus memperhatikan nilai yang dicapai oleh klien.
10.  Perilaku yang berubah tersebut (klien) harus sesuai dengan situasi pada umunya dan menjaganya.
Munculnya perilaku disebabkan adanya antecedens, yaitu suatu keadaan yang terjadi sebelumnya, dan ketika seseorang mulai memberi respon maka akan memunculkan suatu konsekuensi tertentu. Dalam gambar .1 ditunjukkan bahwa adanya beberapa perbedaan dalam proses perubahan perilaku. Gambril (1995) menjelaskan dasar dari pekerjaan perilaku adalah bisa menghubungkan antara antecedence dengan perilaku yang dimunculkan. Gambrill juga menjelaskan bahwa adanya hubungan antara beberapa pendekatan. Fokus teori pembelajaran sosial yaitu bagaimana kita belajar dari situasi sosial dengan cara proses belajar, yang kemudian memberikan dampak yang baik. Metode kognitif-behaviuoral adalah prosedur terapi, yang mempunyai fokus pada perubahan pikiran, perasaan dan perilaku. Radical behavioursm menyatukan pikiran dan perasaan sebagai perilaku, dan perilaku tersebut memunculkan suaut perilaku laiinya. Pikiran dan perasaan tersebut dapat diubah seperti pada perilaku-perilaku tertentu yang dapat diubah pula. Neo-behaviourism lebih berkonsentrasi pada masalah stress dan kegelisahan.








BAB II
PRAKTIK TEORI PERILAKU DAN KOGNITIF
A. Proses Praktek Teori
     Beberapa masalah penting dalam teori pembelajaran dan perilaku dapat dipahami secara baik dengan menggunakan pendekatan-pendekatan. Sheldon (1998) mengidentifikasi beberapa hal penting dalam terapi perilaku:
1.      Responden atau pengkondisian secara klasik / respondent or classical conditioning ( stimulus-respon – Jakson and King, 1982)
2.      Operant Conditioning adalah praktek perilaku, yang menitikberatkan pada perubahan perilaku yang bisa dipengaruhi, dan menimbulkan  konsekwensi.
3.      Learned helplessness adalah menggali kemampuan dan pengetahuanyang dimiliki.
4.      Pembelajaran sosial dan modeling membantu banyak orang untuk menghargai bahwa model tersebut tidak menimbulkan akibat yang merugikan (Sheldon 1998:20).
5.      Faktor-faktor kognitif, (Scott dan Dryden.1996) mengklasifikasi kan terapi kognitif-perilaku kedalam empat kategoris:
a.       Ketrampilan mengkopi (coping skills). Ketrampilan ini mempunyai dua element yaitu bahasa verbal dengan dia sendiri (self-verbalization)
b.      Memecahkan  masalah (Problem solving). Yang mempunyai fokus melihat kehidupan manusia sebagai sebuah proses memecahkan isu-isu kehidupan
c.       Cognitive restructuring atau membangun kembali pola-pola kognisi. Kategori ini bisa dikatakan sebagai pengetahuan yang harus dikuasai termasuk terapi kognisi Beck (CT) dan terapi perilaku rasional emosi (REBT/RET).
d.      Structural cognitive therapy atau terapi kognisif structural. tiga struktur kepercayaan yang ada dalam pikiran klien.
B.  Penerapan Teori
Implikasi dari pandangan ini sugest bahwa pendekatan perilaku mungkin tidak berfungsi dengan baik beberapa tujuan sosial yang lebih luas dan isu-isu dalam pekerjaan sosial. Thomas (1968, 1971) di Amerika Serikat dan Yehu (1967, 1972). Teori kognitif mendirikan sebuah posisi dalam pekerjaan sosial terutama teori tahun 1980-an meskipun karya Goldstein (1981, 1984), yang berusaha menggabungkan ide-ide lebih manusiawi di dalamnya. Kemungkinan ini disarankan oleh keprihatinan perilaku dasar ide-ide dengan sifat pikiran. Bersekutu dengan ide-ide kognitif, ini memungkinkan penerimaan keakuratan klien memahami dunia. Ada, oleh karena itu, tidak perlu melihat clien sebagai salah persepsi dan menyerang mereka. Unsur ini menjadikan penerimaan terapi kognitif dan behavioris dengan cara-cara yang tampak lebih alami konvensi kerja sosial. Termasuk elemen humanistik, maka aspek curial Goldstein pekerjaan dan kemudian menulis Werner (1986). 
Teori-teori kognitif-perilaku yang utama model barat praktek, karena mereka emprises perubahan psikologis individu, penilai dari tujuan sosial yang lebih luas yang mungkin lebih relevan di negara-negara berkembang, dan menggunakan negara. Kelompok teori ini adalah, misalnya, tidak dibahas dalam Kuma's (1995) meninjau india sosial teori sosial minat timur berbasis bukti praktek thyer dan clamed di kant's (2004) edited tes tentang praktik berbasis bukti, yang meliputi bab dari Hong Kong dan selatan Afrika. Namun, bab ini terutama tentang ovulasi proyek-proyek sosial dan pembangunan sosial, daripada praktek perilaku-kognitif.
Prinsip-prinsip dasar dan metode kerja perilaku yang describedabove. Ini diterapkan dalam situasi terapeutik (Sheldon). Sebuah jadwal terapi penguatan perilaku dan kognitif  sebagai berikut:
·        Penguatan terus-menerus setiap contoh perilaku yang dikehendaki akan bekerja dengan cepat.
·         Membentuk berarti memperkuat langkah kecil menuju perilaku yang dikehendaki.
·        Memudar berarti terus mengurangi jumlah atau jenis perilaku thedesired penguatan setelah tercapai, sehingga perilaku dapat ditransfer ke pengaturan baru.
·        Intermiten penguatan digunakan ketika perilaku tidak selalu diperkuat.
·         Rasio jadwal memperkuat penguatan berselang setelah serangkaian kejadian beberapa perilaku yang diinginkan.
·         Interval jadwal memperkuat setelah periode satu set perilaku yang diinginkan.
Jadwal ratio atau interval mungkin tetap atau mungkin bervariasi seputar sebuah periode tipikal atau jumlah perilaku. Jadwal variable paling bertahan dari gangguan dan lebih praktikal sehingga penekanan yang sangat konsisten tidak mungkin dilakukan.
C.  Teknik perilaku berkelompok
   Fischer dan Gochros (1975;115-119) dan Hutson dan Macdonal (1986;165) membagi studi pendekatan perilaku yang dapat dipakai secara efektif dalam pekerjaan kelompok contohnya suporter. Salah satu metode yang berguna  dalam pekerjaan kelompok adalah melalui latihan ketrampilan sosial. Rose ( 1986 ) membahas pekerjaan kelompok  dengan pendekatan kognitif dengan memakai pembelajaran sosial tentang pengendalian diri dan  pengopian hasil pengamatan.
   Burgess et.al. ( 1980 ), sebuah kelompok pelajar, menggambar-kan tentang pemakaian latihan ketrampilan sosial terhadap kelompok pelanggar sex di penjara dengan cara memberikan contoh yang baik melalui teknik – teknik   yang diaplikasikan. tiga tehnik kombinasi tersebut adalah :
-        Microteaching of small elements of skills in interactions with others ( Proses Pengajaran mikro tentang elemen – elemen dalam ketrampilan sosial untuk berinteraksi dengan orang lain ) seperti dengan memakai suara, kontak mata dan postur.
-        Assertiveness training ( latihan ketegasan ) akan membantu para narapidana untuk mengungkapkan ide – idenya  dan mencari ketertarikan tanpa menyakiti orang lain.
-        Role playing yaitu para narapidana bisa berkembang dan berperan dalam kelompoknya. Contohnya pembagian kelompok sesuai dengan permasalahan narapidana tersebut.
D.  Politik teori kognisi-perilaku 
Behavioris melancarkan serangan tajam pada model psikodinamik pekerjaan sosial. Mereka kritikus yang sakit-hasil ditetapkan berdasarkan asumsi tentang struktur psikologis dalam pikiran yang tidak dapat kita memeriksa secara empiris. Argumen yang kuat bagi perilaku dan metode kognitif, yang ditekan terus-menerus menggeliat tentang mereka, adalah mereka diuji secara empiris keberhasilan dalam mencapai hasil. Metode-metode perilaku kognitif terbatas atteinade digunakan dalam pengaturan khusus sedikit pun kelompok-kelompok klien tertentu. Ada sering digunakan untuk Scholl fobia, masalah masa kanak-kanak dan pengaturan inpsikiatric, sary dalam kasus metode kognitif, dengan kegelisahan dan depresi mil satu jatah untuk ini adalah bahwa psikologi klinis, dan sampai sejauh leaser medis dan keperawatan lainnya dalam pengaturan tersebut, dapat menawarkan pengawasan dan menyediakan lingkungan yang simpatik dan berpusat pada pasien dan pengaturan untuk metode terapeutik. Keuntungan seperti itu jarang tersedia dalam pekerjaan sosial konvensional lembaga
Menggabungkan kognitif metode dalam sengketa. Beberapa penulis (seperti Sheldon, 1995) memperlakukan ini sebagai dasar pengembangan metode perilaku, seperti teori pembelajaran sosial telah. Lain, seperti Scott (1989), memiliki lebih langsung memasukkan ide-ide dari teori kognitif dalam pekerjaan sosial formulasi. dari penggabungan teori kognitif dalam pekerjaan sosial formulasi. Hudson dan macDonnald (1986) yang meragukan tentang penggabungan pendekatan kognitif menjadi model terapi perilaku. Kebanyakan penulis kontemporer menganggap mereka besar dan baru seperangkat teknik yang berbeda, yang harus dikembangkan secara mandiri tingkat tertentu. Akan menyebabkan mereka memperkenalkan kepedulian terhadap proses mental internal, beberapa orang berpikir mereka merusak kredibilitas ilmiah metode perilaku, walaupun dalam praktis untuk mencapai validasi riset mereka sendiri (Scott dan Dryden, 1996). Fokus pada persepsi pemikiran dan juga menghubungkan dengan berbagai teori-teori pekerjaan sosial lainnya, yang memiliki dampak karena banyak praktek kerja sosial masyarakat berurusan di reaksi persepsi dan pengalaman sosial. Sebuah fokus pada perilaku ketat lonceng kurang baik dengan tuntutan social yang dibuat pada pekerjaan sosial.
Kesulitan besar dengan perilaku-kognitif methodsis karakter teknis mereka, dengan banyak istilah dan jargon prosedur resmi, tampaknya bekerja dalam sistem. Untuk sebagian pekerja tampaknya ini non-manusia. Namun demikian, pendekatan terhadap masalah-masalah yang dapat dengan jelas dan dibenarkan. Ada juga keberatan atas dasar etis, karena memanipulasi perilaku pekerja daripada itu berada di bawah kendali klien. Hal ini bisa mengakibatkan teknik behavioris pekerja memaksakan kehendak pada klien tidak bersedia, dalam mengejar sosial atau kebijakan politik yang bisa, di ekstrem, akan digunakan untuk politik otoriter.
Behaviourists berpendapat bahwa persetujuan masyarakat diperlukan secara etis dan praktis yang diperlukan untuk sukses.  Watson (1980: 105-15) berpendapat bahwa ini bukan jawaban yang memadai terhadap masalah etika.  Behaviorisme inheren mengasumsikan bahwa semua perilaku ini disebabkan.  Jika orang memutuskan bahwa mereka ingin perubahan yang mungkin dicapai dengan metode perilaku, maka mereka bertindak menggunakan penalaran mereka sendiri dengan bebas, dalam arti memutuskan tanpa kendala pada keputusan mereka. 
Sheldon (1995: 232-4) berpendapat bahwa tidak ada metode pekerjaan sosial, termasuk perilaku metode, begitu kuat sehingga mereka dapat mengatasi hambatan, dan jenis pekerjaan lainnya juga melibatkan kontrol dan pembatasan kebebasan. Namun, tampaknya ini protes yang lemah ketika metode perilaku terutama mengklaim bahwa mereka sukses di luar pekerjaan sosial lainnya atau teknik terapi.  Selain itu, kita seharusnya tidak menempatkan orang dalam posisi harus menolak, tetapi harus melindungi mereka dari hal ini. Sheldon lebih jauh berpendapat bahwa kita harus mengukur kerugian apapun model samping keuntungan, dan ini akan berlaku dengan kelemahan teori-teori lain: bukti-bukti untuk efektivitas metode kognitif-perilaku tidak ditemukan dalam model teoritis lainnya.
Model perilaku kadang-kadang disalahgunakan. Perawatan perumahan rumah, misalnya, telah menggunakan pahala dan hukuman aspek metode perilaku dalam cara-cara opresif atau kasar. Satu contoh adalah 'pin-down' skandal di rumah tinggal untuk anak-anak di Britania (Levy dan Kahan, 1991).  Di sini, ide-ide perilaku tertentu dibenarkan mengunci anak-anak untuk hari waktu lama tanpa pakaian.  Sheldon (1995: 237-41) berpendapat bahwa dalam situasi semacam ini, beberapa metode yang digunakan di mana orang-orang corcerned sudah termotivasi untuk menindas klien.  Setiap metode dapat disalahgunakan untuk melakukannya.
Perilaku kerja sosial memiliki pengaruh yang cukup besar, terutama di Amerika Serikat, tetapi belum berhasil mendapatkan penggunaan luas, kecuali dalam pengaturan atau untuk speciaist khususnya masalah-masalah yang relevan.



BAB III
KESIMPULAN

   Kebanyakan penulis bihavioural penutup tanah yang sama. Sheldon's (1995) terapi perilaku kognitif-digunakan di sini sebagai axample teks untuk menunjukkan bagaimana perilaku kognitif diimplementasikan ide-ide dalam pekerjaan sosial karena ia menawarkan laporan lengkap dari praktek perilaku, tetapi juga mengambil beberapa rekening kontribusi kognitif, maju dari edisi sebelumnya.   Penulis baru-baru ini penting lainnya adalah Cigno (2002) dan Cigno dan Bourn (1998) di Inggris dan Gambrill (1977, 1995) dan Thyer (1987, 1989) di Amerika Serikat.  Banyak rekening atau praktek empiris yang diinformasikan oleh teori-teori kognitif-perilaku.  
Sebuah Assessment merupakan aspek krusial dari pekerjaan cognitive-behavioural karena hal ini tergantung pada pemahaman detail dari perilaku.Bentuk assessment yang tepat adalah:
·         Mendapatkan gambaran masalah dari titik pandang yang berbeda
·         Mendapatkan contoh siapa yang terkena dan bagaimana
·         Gali awal masalah, bagaimana mereka berubah dan apa yang menyebabkannya
·         Kenali bagian yang berbeda dari masalah dan bagaimana mereka terjadi bersamaan
·         Assess motivasi untuk berubah
·         Kenali pola dan perasaan yang datang sebelumnya, selama dan sesudah masalah terjadi
·         Kenali kekuatan dalam dan seputar klien.
   Pendekatan tingkah laku dengan menampilkan kelompok mayoritas kedua dari teori Residential work. ( Hudson 1982 ; Ryan 1979 ). Pendekatan umumnya melalui faktor ekonomi. Faktor ekonomi sangat berguna untuk latihan pembedaan / penggolongan dalam perilaku. (Sheldon 1982, hal.156, Fischer dan Gochros ,1975 hal 287). Dan ini akan membantu orang dalam menyeleksi tingkah laku sesuai dengan keadaan sosial tertentu.
   (Pizzat.1973) menerangkan tentang kelompok penguat (reinforce) yang bervariasi sedangkan (Sheldon:1982) menerangkan bahwa faktor ekonomi dapat ditunjukkan keberhasilannya melalui perubahan tingkah laku.
   Pendekatan perilaku dapat diaplikasikan secara jelas dan luas dalam bentuk perawatan/pemulihan yang seluruhnya didukung oleh suatu penelitian. (Patterson 1986 )  In relation to conselling menyatakan bahwa modifikasi perilaku yang konvensional perlu ditambahkan lagi. (Mc Auley:1980) membahas tentang metode pengalaman   perilaku yang biasa dilakukan dalam pekerjaan sosial. (B. Hudson:1978 ) mengatakan bahwa ada langkah awal dari sebuah kegiatan  untuk membantu pasien yang terkena schizophrenic dalam masyarakat dengan memakai teknik pendekatan perilaku.   

(Tugas Mata Kuliah Teori Peksos Kelas II F (08) Kelompok I)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar