Minggu, 01 Januari 2012

Feminisme


     A. S E J A R A H
                       Menurut Gerda Lerner dalam sejarah mengatakan bahwa kunci kunci pemahaman mengenai sejarah perempuan adalah menerima bahwa ia adalah sejarah mayoritas manusia. Tulisan ini dapat membangkitkan kembali teori karena ia menguncang landasan fundal mental dalam studi sejarah. Kategiri mendasar dari pemikiran sejarah feminis adalah hubungan sosial dari kedu jenis kelami.
       Ada tiga cara dimana feminis telah diubah presepsi kita mengenai masa lalu.

       1.  Dalam sejarah feminis mendefinisikan kembali metode dan kategori, terutama konsep priodisasi. Hal ini menurut Joan Kelly Gadol. Ia menyusun teori baru mengenai kemajuan sosial dengan mencatat biaya kemanusiaan yang harus dibayar oleh perempuan dalam sebuah periode yang sebelumnya dianggap sebagai progresif  mereka bersama-sama merekonstruksikan gagasan mengenai kultur kapitalis dengan mempresentasikan informasi baru mengenai arti penting dialektikal budaya Viktorian mengenai laki-laki dan perempuan (Ctt 1977).

       2.  Sejarah frminis memfokuskan pada jenis kelamin, bersama dengan ras dan kelas sebagai kategori analisis, ini untuk menolak ungkapan-ungkapan yang dasi mengenai perempuan. Dan dapat di menggantinya dengan pertanyaan mengenai posisi dan fungsi perempuan pada waktu dan tempat tertentu.Dan akhirnya adanya perubahan sosial  
            Menurut Marcia Weskott menyatakan bahwa penelitian mengenai sejarah perempuan, terutama jika iadicatat melalui kesadaran perempuan sendiri, akan menggabungkan psikis dan sejarah.












       B.PENGERTIAN FEMINISME
                       Teori feminis merupakan suatu wilayah yang memberikan kontribusi penting dan orisinal terhadap pemikiran kontemporer. Dalam teori ini, feminisme ketegasannya mengenai keterkaitan antara teori dan praktik dan antara publik dan privat. Didalam teori ini memiliki pengalaman dan memiliki hubungan yang khusus di dalam feminisme yang di kemasan dalam slogan “the personal is political”. Dalam istilah-istilah didalam teori-teori yang sudah ada digunakan untuk meringkus hal-hal yang dianggap sebagai pengalaman penting yang di alami oleh perempuan.
                       Secara umum, Feminisme adalah ideologi pembebasan perempuan karena yang melekat dalam semua pendekatannya adalah keyakinan bahwa perempuan mengalami ketidakadilan karena jenis kelaminnya.  Definisi feminisme oleh feminis cenderung dibentuk oleh latihan, ideology, atau ras mereka. Menurut Marx dalam sosialis dapat menekankan interaksi kelas dalam feminisme dengan gender dan memfokuskan pada pembedaan sosial antara perempuan dan laki-laki.
       Mitchell dan Iakley (1976). Feminisme kulit Hitam menyatakan bahwa lebih banyak analisis terpadu yang bias menguraikan berbagai system penindasan.
                       Tujuan pokon dari teori feminis adalah memahami penindasan perempuan secara ras, gender, kela, dan pilihan seksual serta bagaimana mengubahnya. Teori feminis mengungkapkan nilai penting individu perempuan beserta pengalamannya yang dialami bersama dan perjuangan yang mereka lakukan. Feminisme akan selalu memerlukan kerangka kerja yang mampu mengekspolerasi perbedaan. Dan teori feminisme dapat menampiklan potensi tersebut dengan tujuan politik yang lebih luas.  Terutama pada masalah-masalah Dunia ketiga, dimana semua debat seksualitas- semua memfokuskan diri pada sifat-sifat khas bagi kaum perempuan yang didasarkan pada pembagian kerja dan reproduksi berdasarkan jenis kelamin.










       C.JENIS – JENIS FEMINISME
Ø  Feminis Liberal
      Teori feminis liberal meyakini bahwa masyarakat telah melanggar nilai tentang hak hak kesetaraan terhadap wanita, terutama dengan cara mendefinisikan wanita sebagai sebuah kelompok ketimbang sebagai individu-individu. aliran ini mengusulkan agar wanita memiliki hak yang sama dengan laki-laki.
      Para pendukung feminisme liberal sangat banyak, antara lain John Stuart Mill, Harriet Taylor, Josephine St. Pierre Ruffin, Anna Julia Copper, Ida B. Wells, Frances E. W. Harper, Mary Church Terrel dan Fannie barrier Williams (Saulnier, 2000).
      Gerakan utama feminisme liberal tidak mengusulkan perubahan struktur secara fundamental, melainkan memasukan wanita ke dalam struktur yang ada berdasarkan prinsip kesetaraan dengan laki-laki.
Inti ajaran feminis liberal
       Memfokuskan pada perlakuan yang sama terhadap wanita di luar, dari   pada di dalam, keluarga.
       Memperluas kesempatan dalam pendidikan dianggap sebagai cara paling efektif melakukan perubahan sosial.
       Pekerjaan-pekerjaan ‘wanita’, semisal perawatan anak dan pekerjaan rumah tangga dipandang sebagai pekerjaan tidak trampil yang hanya mengandalkan tubuh, bukan pikiran rasional.
       Perjuangan harus menyentuh kesetaraan politik antara wanita dan laki-laki melalui penguatan perwakilan wanita di ruang-ruang publik. Para feminis liberal aktif memonitor pemilihan umum dan mendukung laki-laki yang memperjuangkan kepentingan wanita.
       Berbeda dengan para pendahulunya, feminis liberal saat ini cenderung lebih sejalan dengan model liberalisme kesejahteraan atau egalitarian yang mendukung sistem kesejahteraan negara (welfare state) dan meritokrasi.

Implikasi terhadap pekerjaan social
1. Terapi Individu
     Para pekerja sosial yang menggunakan perspektif feminis liberal mengusulkan agar wanita menjadi lebih mandiri baik secara ekonomi maupun emosional. Pekerja sosial
akan membantu wanita memperoleh akses terhadap sumber-sumber yang sebelumnya hanya tersedia bagi laki-laki; membantu lesbian memperoleh akses terhadap pelayanan-pelayanan yang sebelumnya hanya diperuntukkan bagi wanita heteroseksual; atau membantu lesbian mengadopsi dan merawat anak secara adekuat.

2. Terapi Kelompok
     Aktif mengembangkan kelompok-kelompok pelatihan assertiveness yang dapat membantu wanita mengatasi kekurang-percayaan diri dalam berpartisipasi di ranah publik bersama laki-laki. Selain itu, kaum feminis leberal juga mengembangkan ‘terapi perilaku cognitif’ atau Cognitive Behavioral Theraphy (CBT) yang dapat membantu wanita menetapkan tujuan-tujuan kognitif, emosional dan perilaku. Sebagi contoh,
dalam sebuah workshop 6 sesi, partisipan wanita melakukan latihan:
(a) meminta pasangannya untuk menelepon dia jika pulang terlambat;
      (b) praktek agar lebih berani dengan pasangan, atasan atau orang lain yang belum dikenal;
(c) memberi penghargaan terhadap dirinya jika mampu mempraktekkan point
      (d  memberikan masukan kepada pasangannya mengenai keinginan dan perasaan-perasaannya dan berbicara terhadap orang lain pada suatu pertemuan;
(e) menghadiri pertemuanpertemuan tanpa ditemani laki-laki; dan
(f) membaca buku yang berjudul Intelligent Woman’s Guide to Dating and Mating.

3. Terapi Komunitas
     Para feminis liberal sangat aktif dalam mendirikan klinik-klinik pengendalian kelahiran. Dalam bidang pengembangan masyarakat ini, para pendukung feminis liberal di AS mendirikan organisasi kemasyarakatan yang diberi nama National Organization of Women (NOW) pada tahun 1966.
Tujuan utama lembaga ini adalah
meningkatkan kesetaraan dalam bidang politik, ekonomi dan kehidupan sosial. NOW juga mengusahakan perubahan kebijakan publik dan mendukung wanita menjadi anggota parlemen. Pada tahun 1970an, NOW mengajukan resolusi kemiskinan dan mendukung kaum minoritas, khususnya bagi wanita kulit putih kelas menengah.

4. Terapi Organisasi
     Memfokuskan pada perlunya pelatihan administrasi bagi wanita untuk menggantikan posisi-posisi yang selama ini selalu diduduki laki-laki. Wanita perlu dilatih mengenai
assertivenes dan kepercayaan diri agar mampu memimpin lembaga pelayanan sosial.

5. Analisis Kebijakan Sosial
     Perjuangan paling kentara dari feminisme liberal di AS adalah dalam mengusulkan amandemen kebijakan kesetaraan hak (Equal Rights Amendement/ERA) untuk mengintegrasikan wanita kedalam arus utama kehidupan Amerika melalui penghapusan Undang-Undang dan tradisi-tradisi yang diskriminatif yang menghalangi wanita memperoleh kesamaan penuh dalam konteks kapitalisme.
Dalam hal kebijakan reproduksi, feminis liberal mendukung bukan saja sterilisasi, melainkan juga aborsi. Wanita adalah individu yang otonom dan harus diberi hak dan
kebebasan untuk mengontrol tubuhnya sendiri tanpa tekanan dari negara.

6. Penelitian Pekerjaan Sosial.
  Melakukan penelitian untuk menentang mitos dan anggapan bahwa wanita yang terlibat dalam kegiatan intelektual akan mengalami gangguan dalam organ reproduksinya. Mengusulkan agar wanita terlibat dalam pengembangan desaindesain
riset yang secara khusus meneliti istilah ‘feminis’. Terma-terma yang sering dikaji meliputi: logika, pengetahuan, realistik, cerdas, caring, comforting, agresif, aktivis, bekerja, ambisius, kuat, tanpa kompromi, dan heteroseksual.

Ø  FEMINIS RADIKAL
Feminis radikal lahir dari aktivitas dan analis politik mengenai hak-hak sipil dangerakan-gerakan perubahan sosial pada tahun 1950an dan 1960an; serta gerakangerakan
wanita yang semarak pada tahun 1960an dan 1970an (Saulnier, 2000).
Namun demikian, mazhab ini dapat dilacak pada para pendukungnya yang lebih awal. Pada tahun 1797 menganjurkan kemandirian wanita dalam bidang ekonomi. Maria Stewart, salah satu feminis kulit hitam pertama, pada tahun 1830an mengusulkan penguatan relasi diantara wanita kulit hitam. Elizabeth Cuddy Stanton pada tahun 1880an menentang hak-hak seksual laki-laki terhadap wanita dan menyerang justifikasi keagamaan yang menindas wanita (Saulnier, 2000).

     Feminis radikal juga dikembangkan dari gerakan-gerakan Kiri Baru (New Left) yang menyatakan bahwa perasaan-perasaan keterasingan dan ketidakberdayaan pada dasarnya diciptakan secara politik dan karenanya transformasi personal melalui aksiaksi radikal merupakan cara dan tujuan yang paling baik. Mazhab ini secara fundamental menolak agenda feminisme liberal mengenai kesamaan hak wanita; dan menolak strategi kaum liberal yang bersifat tambal sulam, incremental, dan tidak menyeluruh (Saulnier, 2000; Orme, 1998). Berseberangan dengan feminis liberal yang menekankan kesamaan antara wanita dan laki-laki, feminis radikal menekankan pada perbedaan antara wanita dan laki-laki. Misalnya, wanita dan laki-laki mengkonseptualisasikan kekuasaan secara berbeda. Bila laki-laki berusaha untuk mendominasi dan mengontrol orang lain; wanita lebih tertarik untuk berbagi dan merawat kekuasaan.

Inti ajaran feminis radikal
 The personal is political’ adalah slogan yang kerap digunakan oleh feminis radikal. Maknanya: bahwa pengalaman-pengalaman individual wanita mengenai ketidakadilan dan kesengsaraan yang oleh para wanita dianggap sebagai masalah-masalah personal, pada hakekatnya adalah isu-isu politik yang berakar pada ketidakseimbangan kekuasaan antara wanita dan lakilaki.
  Memprotes eksploitasi wanita dan pelaksanaan peran sebagai istri, ibu, dan pasangan sex laki-laki, serta menganggap perkawinan sebagai bentuk formalisasi pendiskriminasian terhadap wanita.
  Menggambarkan sexism sebagai sistem sosial yang terdiri dari hukum, tradisi, ekonomi, pendidikan, lembaga keagamaan, ilmu pengetahuan, bahasa, media massa, moralitas seksual, perawatan anak, pembagian kerja, dan interaksi sosial sehari-hari. Agenda tersembunyi dari sistem sosial itu adalah memberi kekuasaan laki-laki melebihi wanita.
 Masyarakat harus diubah secara menyeluruh. Lembaga-lembaga sosial yang paling fundamental harus diubah secara fundamental pula. Para feminis radikal menolak perkawinan bukan hanya dalam teori, melainkan sering pula dalam praktek.
 Menolak sistem hierarkis yang berstrata berdasarkan garis jender dan kelas, sebagaimana diterima oleh feminis liberal
Implikasi terhadap pekerjaan social
1. Terapi Individu
Motto ‘the personal is political’ menjadi perhatian utama dalam berbagai strategi terapi individu yang dikembangkan kaum feminis radikal. Tujuan casework meliputi transformasi personal melalui aksi radikal yang memfokuskan pada perasaan perasaan terasing dan tidakberdaya akibat tekanan politik. Perhatian terhadap kesadaran sosiopolitik dan konsekuensi kehidupan masyarakat yang tidak adil menjadi tema utama dalam pengembangan model perawatan kesehatan mental dan masalah-masalah klinis. Satu terapi individu yang dibentuk kelompok feminis radikal adalah sebuah program pendampingan dan konseling di wilayah Boston bagi wanita dan anak-anak korban kekerasan dalam rumah tangga.

2. Terapi Kelompok
     Pembentukan kelompok-kelompok C-R (consciousness-raissing) bagi para wanita adalah salah satu ‘trade-mark’ feminis radikal dalam bidang terapi kelompok. Kelompok menyelenggarakan program-program yang bersifat:
 (a) transformasi personal, yakni menciptakan kesempatan kepada wanita untuk mengungkapkan kemarahan dan ketidakadilan; dan
(b) transformasi sosial, yakni menciptakan proyekproyek
pusat kegiatan wanita, menerbitkan koran wanita, dan membuat direktori tentang sumber-sumber yang dapat diakses wanita.

3. Terapi Komunitas
  Kegiatan-kegiatan kaum feminis radikal dalam bidang pengembangan masyarakat meliputi protes terhadap pornografi dengan argumen bahwa pornografi mempromosikan kekerasan dan permusuhan terhadap wanita; kampanye pendidikan menentang perkosaan dan kekerasan terhadap wanita. Sumbangan lain dari feminis radikal adalah pembentukan ‘Ekonomi Baru bagi Wanita’, sebuah organisasi pengembangan ekonomi aktivis Amerika Latin yang memperjuangkan perumahan murah yang didesain untuk ibu-ibu yang bekerja di luar rumah. Satu publikasi terkenal yang dihasilkan para aktivis feminis radikal di AS adalah buku the BostonWomen’s Health Book Collective yang mendorong wanita untuk mengontrol kesehatan berdasarkan kemampuan dan kemauannya sendiri.

4. Terapi Organisasi
  Menolak struktur organisasi hierarkis. Mengusulkan agar lembaga pelayanan manusia memiliki struktur ‘hierarkis mendatar’ yang menghilangkan dikotomi dan perbedaan-perbedaan yang berlebihan antara administrator, staff dan klien. Model ini menganjurkan pentingnya struktur organisasi yang lebih demokratis menghargai keragaman keterampilan dan kontribusi orang; menekankan prinsip berbagi informasi ketimbang merahasiakannya; dan mendorong orang untuk memperluas keahliannya melalui pembagian kerja, rotasi tugas, dan penyelesaian tugas secara bersama.Feminis radikal mengusulkan sistem administrasi yang menghargai proses, perubahan struktur, dan kekuatan-kekuatan wanita ketimbang kelemahankelamahannya.

5. Analisis Kebijakan Sosial
  Satu kebijakan yang paling ditentang feminis radikal adalah menyangkut pornografi.Pornografi adalah aktivitas yang mempromosikan kekerasan seksual, mulai dari produksi, konsumsi hingga akibat-akibat yang ditimbulkannya. Mereka mendefinisikan pornografi sebagai gambar atau material yang secara eksplisit mensubordinasi wanita melalui gambar atau bahasa. Dowrkin dan MacKinon, dua tokoh feminis radikal di AS, mengusulkan Rancangan Undang Undang Anti pornografi di Kota Minneapolis. RUU tersebut berhasil diloloskan dewan kota sebanyak dua kali,namun walikota memveto RUU itu sebanyak dua kali pula.
6. Penelitian Pekerjaan Sosial
  Penelitian feminis radikal menerapkan pendekatan alternatif yang tidak hanya‘memasukan wanita kemudian mengontrolnya’, melainkan mengajukan pertanyaanpertanyaan
penelitian yang merespon kebutuhan dan aspirasi wanita. Sebagai contoh: penelitian terhadap para mahasiswa dilakukan dengan mengkombinasikan pendekatan consciousness-raising dengan buku harian kelompok yang dihimpun dalam komputer secara anonim. Anonimitas dan kolektifitas buku harian dipandang sebagai satu cara efektif menghimpun perasaan-perasaan partisipan yang
tersembunyi. Topik-topik penelitian lainnya biasanya menyangkut bagaimana wanita merekonstruksi dinamika kekuasaan, mendefinisikan pengalaman-pengalaman
personalnya dalam terma politik, atau mempertimbangkan aksi-aksi sosial.

Ø  FEMINIS SOSIALIS
  Feminis sosialis mulai dikenal sejak tahun 1970an. Menurut Jaggar, mazhab ini merupakan sintesa dari pendekatan historis-materialis Marxisme dan Engels dengan wawasan ‘the personal is political’ dari kaum feminis radikal (Fakih, 1995), meskipun banyak pendukung mazhab ini kurang puas dengan analisis Marx dan Engels yang tidak menyapa penindasan dan perbudakan terhadap wanita (Saulnier, 2000).
Marx menyatakan: kondisi material atau ekonomi merupakan akar kebudayaan dan organisasi sosial. Cara-cara hidup manusia merupakan hasil dari apa yang mereka produksi dan bagaimana mereka memproduksinya. Maka, semua sejarah politik dan intelektual dapat difahami dengan mengetahui ‘mode of economic production’ yang dilakukan oleh bangsa manusia. Kesadaran dan diri berubah mengikuti perubahan lingkungan material

     Engels Menurut, wanita dan laki-laki memiliki peranan-peranan penting dalam memelihara keluarga inti. Namun karena tugas-tugas tradisional wanita mencakup pemeliharaan rumah dan penyiapan makanan; sedangkan tugas laki-laki mencari makanan, memiliki dan memerintah budak, serta memiliki alat-alat yang mendukung pelaksanaan tugas-tugas tersebut;
laki-laki memiliki akumulasi kekayaan yang lebih besar ketimbang wanita. Akumulasi kekayaan ini menyebabkan posisi laki-laki di dalam keluarga menjadi lebih penting daripada wanita dan pada gilirannya mendorong laki-laki untuk mengeksploitasi posisinya dengan menguasai wanita dan menjamin warisan bagi anak-anaknya

Inti ajaran feminis sosialis
 Wanita tidak dimasukan dalam analisis kelas, karena pandangan bahwa wanita tidak memiliki hubungan khusus dengan alat-alat produksi.Karenanya, perubahan alat-alat produksi merupakan ‘necessary condition’, meskipun bukan ‘sufficient condition’, dalam mengubah faktor-faktor yangmempengaruhi penindasan terhadap wanita.
 Menganjurkan solusi untuk membayar wanita atas pekerjaannya yang dia lakukan di rumah. Status sebagai ibu rumah tangga dan pekerjaannya sangat
penting bagi berfungsinya sistem kapitalis.
 Kapitalisme memperkuat sexism, karena memisahkan antara pekerjaan bergaji dengan pekerjaan rumah tangga (domestic work) dan mendesak agar wanita melakukan pekerjaan domestik. Akses laki-laki terhadap waktu luang,pelayanan-pelayanan personal, dan kemewahan-kemewahan telah
mengangkat stancdar hidupnya melebihi wanita; karenanya adalah laki-laki
sebagai anggota sistem patriakal, bukan hanya cara-cara ekonomi kapitalis, yang diuntungkan oleh tenaga kerja wanita.

Implikasi terhadap pekerjaan sosial
1. Terapi Individu
Menganjurkan agar pekerja sosial yang membantu wanita korban kekerasan untuk memfokuskan pada kekuasaan politik laki-laki dalam struktur patriakal. Pada saat memberi konseling, sebaiknya pekerja sosial tidak menyatukan korban dengan pelaku kekerasan.

2. Terapi Kelompok
Mengusulkan pembentukan kelompok-kelompok swadaya. Karena bersandar pada pengalaman sehari-hari para wanita pekerja, kelompok swadaya dipandang sangat potensial dalam meningkatkan solidaritas diantara para anggotanya. Untuk mengoptimalkan peran kelompok swadaya sebagai sebuah terapi kelompok, strategi yang dikembangkan meliputi:
(a) menghubungkan kelompok-kelompok swadaya dengan kritik wacana sosial yang lebih luas;
(b) membantu kelompok-kelompok tersebut menjadi sebuah agen perubahan sosial;
(c) membantu kelompokkelompok swadaya menghindari hegemoni profesional dan sistem welfare state.

3. Terapi Komunitas
Mendorong pembentukan serikat-serikat pekerja berdasarkan analisis jender dan kelas. Salah satu serikat pekerja yang terkenal adalah the National Women’s Trade
Union League (NWTUL) yang didirikan tahun 1903 oleh para wanita pekerja, reformis sosial, dan pekerja perumahan. NWTUL memiliki program-program perlindungan tenaga kerja yang mencakup penetapan delapan jam kerja per hari bagi wanita, penghapusan kerja malam, kesehatan dan keselamatan kerja, toilet khusus bagi wanita, jabatan khusus bagi wanita, larangan mempekerjakan wanita hamil dua bulan sebelum dan sesudah kelahiran, pensiun bagi ibu-ibu selama tidak bekerja, perlindungan wanita dan anak-anak, penyediaan dokter wanita, standar gaji yang
adil.

4. Terapi Organisasi
     Sumbangan feminis sosialis terhadap terapi organisasi adalah analisisnya mengenai hubungan antara asumsi-asumsi patriakal dan birokrasi. Mereka mengusulkan tipe baru struktur organisasi yang disebut ‘neo-birokrasi’. Karakteristik neo-birokrasi antara lain: menolak kemandekan, mengakui kontribusi serikat pekerja dalam
meningkatkan perlindungan dan jaminan sosial, membatasi spesialisasi meski tetap menghargai keahlian, peraturan organisasi dirumuskan secara fleksibel, dan menghargai proses dan hasil sebagai aspek keberhasilan pelayanan organisasi.

5. Analisis Kebijakan Sosial
     Menentang analisis berlawanan dengan sejarah keluarga yang biasanya dijadikan rujukan dalam merumuskan kebijakan sosial. Tanpa pengetahuan mengenai perubahan-perubahan dalam struktur keluarga, kebijakan akan gagal meningkatkan kesejahteraan keluarga; bahkan akan menghancurkannya. Menganjurkan kebijakan keluarga yang mampu:
(a) memperluas akses wanita terhadap pekerjaan;
 (b) mendukung keluarga sebagai mana struktur saat ini;  (c) membuat lembaga-lembaga publik yang lebih memihak kepentingan keluarga dengan fokus utama pada keluarga-keluarga yang paling rentan, yakni keluarga miskin.

6. Penelitian Pekerjaan Sosial
     Perspektif feminis sosialis menempatkan penelitian untuk menantang kontrol dan dominasi kelompok-kelompok tertinggi. Mazhab ini meyakini bahwa dengan melibatkan wanita sebagai kelompok yang tertindas dapat mempertajam analisis ilmiah maupun perjuangan politik. Penelitian dapat diawali dengan analisis mengenai pembagian kerja secara seksual, karena wanita masih dipandang sebagai kelompok yang bertanggungjawab melakukan pekerjaan domestik, meskipun mereka berpartisipasi dalam pekerjaan bergaji. Kita tidak apat memahami hubungan antara
wanita dan struktur ekonomi tanpa memandang peranan wanita.

D.PEKERJAAN SOSIAL FEMINIS
     Pekerjaan sosial feminis adalah satu bentuk praktek pekerjaan sosial yang memperhatikan ketidakadilan jender dan penghapusannya sebagai titik awal untuk memberdayakan wanita, baik sebagai individu, kelompok, anggota organisasi maupun masyarakat; dan berjuang untuk meningkatkan kesejahteraan wanita sebagaimana mereka mendefinisikannya (lihat Dominelli, 2002).
Berpijak pada pengalaman-pengalaman realitas wanita dan menggunakan penelitian yang membuktikan adanya diskriminasi ekstensif dan sistematis terhadap wanita,
Tujuan
     pekerjaan sosial feminis adalah membangun relasi pertolongan berdasarkan nilai-nilai egaliter yang memungkinkan wanita mengembangkan sumber-sumber, keahlian-keahlian dan keyakinan-keyakinanya dalam mengontrol dan menentukan kehidupannya. Pekerjaan sosial di AS adalah profesi yang melibatkan sebagian besar wanita.
Terkait dengan kondisi ini, beberapa analis berpendapat bahwa pengaruh feminisme terhadap pekerjaan sosial masih belum sekuat yang diharapkan.
Reynold, misalnya. berargumen bahwa “…feminism has had minimal influence on the social work curriculum and gives an account of the difficulties that she and her colleagues are encountering in getting sexism the same degree of attention that is given to racism (Dominelli, 2002:99).
        Selain itu, adanya pandangan yang cenderung tidak setuju dengan penggunaan ‘isme-isme’ (seperti seksisme, rasisme, heteroseksisme) sebagai isu utama ketidakadilan dan penindasan, juga turut memperlemah pengaruh feminisme terhadap pekerjaan sosial. Pada tahun 1993, mass media di AS menyebut ‘isme-isme’tersebut sebagai ‘lunatic tendencies’ dalam pekerjaan sosial. Selain mendesak untuk menggantinya dengan istilah yang lebih tepat, mereka juga menuntut diterapkannya kebijakan-kebijakan affirmatif yang lebih luas menjangkau segala bentuk diskriminasi.
     Namun demikian, meskipun terdapat sejumlah tantangan terjal yang menghambat perkembangan pekerjaan sosial feminis, beberapa kemajuan juga telah dicapai sejak dimasukannya unsur pembelaan terhadap wanita ke dalam kurikulum pekerjaan sosial.
     Teori feminis telah meningkatkan pengakuan bahwa wanita memiliki beban berat ‘welfare work’ dan karenanya mengharuskan adanya dekonstruksi pada lembaga-lembaga pelayanan sosial yang oppressive dan sexist dan menggantinya dengan lembaga-lembaga pelayanan sosial alternatif, termasuk paraktek pekerjaan sosial yang berpusat wanita (women-centred practice) (Gibbs, 2001).




 Tugas Mata Kuliah Teori Peksos Kelas II F Kelompok 4 (2008)






DAFTAR PUSTAKA
Humm, Maggie (2007). Ensiklopedia Feminisme . Yogyakarta : Pustaka Baru
Dominelli, Lena (2002), “Feminist Theory” dalam Martin Davies (ed), Companion to Social
Work, Oxford: Blackwell
DuBois, Brenda dan Karla Krogsrud Miley (2005) (edisi ke-5), Social Work: An Empowering
Profession, Boston: Pearson
Fakih, Mansour (1995), Menggeser Konsepsi Gender dan Transformasi Sosial, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar
Gibbs, Anita (2001), “The Changing Nature and Context of Social Work Research” dalam
British Journal of Social Work, Vol.31, halaman 687-704
Orne, Joan (1998), “Feminist Social Work” dalam Robert Adams, Lena Dominelli dan
Malcolm Payne (eds), Social Work: Themes, Issues and Critical Debates, London:
MacMillan
Overholt, Catherine A., Kathleen Cloud, Mary B. Anderson, dan James E. Austin (1994),
“Gender Analisis Framework” dalam H. S. Feldstein dan J. Jiggins (eds), Tools for










Tidak ada komentar:

Poskan Komentar